PERILAKU HYGIENE MENSTRUASI PADA REMAJA DI MADRASAH TSANAWIYAH

DEWI ASTUTI

Sari


Pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terkena infeksi, yang biasanya sekitar 25% dari kasus yang ada disebabkan oleh Candida Albican, Trichomonas Vaginalis, dan sisanya oleh G. Vaginalis.[1] Infeksi mudah terjadi karena letak vagina yang sangat dekat dari uretra  dan anus, sehingga mikroorganisme (jamur, bakteri, parasit, virus) mudah masuk ke vagina. Area vagina yang lembab, tertutup, terlipat dan tidak steril juga merupakan tempat yang cocok bagi berkembangnya mikroorganisme yang tidak menguntungkan bagi tubuh.

Salah satu gejala infeksi adalah terjadinya keputihan. Keputihan adalah cairan berlebihan yang keluar dari vagina. Keputihan merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita[2].  Sebanyak 75% wanita di dunia pernah menderita keputihan paling tidak satu kali seumur hidup dan 45% diantaranya bisa mengalami dua kali atau lebih.

Perilaku buruk dalam menjaga hygiene pada saat menstruasi juga dapat menjadi pencetus timbulnya Infeksi Saluran Reproduksi (ISR)[3]. Penyebab utama penyakit ISR yaitu: imunitas lemah (10%), perilaku kurang hygienesaat menstruasi (30%), dan lingkungan tidak bersih serta penggunaan pembalut yang kurang sehat saat menstruasi (50%)[4]. Angka kejadian ISR tertinggi di dunia adalah pada usia remaja (35%-42%) dan dewasa muda (27%-33%). Prevalensi ISR pada remaja di dunia tahun 2006 yaitu: Kandidiasis (25%-50%), Vaginosis Bakterial (20%-40%), dan Trikomoniasis (5%-15%)[5]. Diantara negara-negara di Asia Tenggara, wanita Indonesia lebih rentan mengalami ISR yang dipicu iklim Indonesia yang panas dan lembab[6]. Perempuan yang memiliki riwayat ISR mempunyai dampak buruk untuk masa depannya seperti: kemandulan, kanker leher rahim, dan kehamilan di luar kandungan[7].


 

 

 

[4] Rahmatika, D. 2010. Pengaruh Pengetahuan dan Sikap tentang Personal Hygiene Menstruasi terhadap Tindakan Personal Hygiene Remaja Putri Pada Saat Menstruasi di SMK Negeri 8 Medan Tahun 2010. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/23575.pdf.

[5] World Health Organization. 2007. The World Health Report 2007-A Safer Future: Global Public Health Security inTthe 21st Century. http://www.who.int/whr/2007/en/index.html.

[6] Puspitaningrum, D. 2010. Praktik Perawatan Organ Genitalia Eksternal pada Anak Usia 10-11 Tahun yang Mengalami Menarche Dini di Sekolah Dasar Kota Semarang. Jurusan Kebidanan Universitas  Muhammadiyah, Semarang. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/128/jtptunimus-gdl-dewi puspit -6364-1-

dewipus-m.pdf.

[7] Rahayu, R.T., Aminoto, C. & Madkhan, M. 2011. Efektivitas Penyuluhan Peer Group dengan Penyuluhan oleh Petugas Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan tentang Menarche. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Vol. 7.No. 3.


Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.