HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIAPADA NEONATUS DI RUANG NEONATUS RSUD NGANJUK

DEWI INDRIANI

Sari


Berat badan lahir sangat mempengaruhi keadaan umum neonatus saat dilahirkan. Neonatus dengan berat badan lahir rendah cenderung mengalami beberapa komplikasi yang berpengaruh terhadap seluruh proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuhnya. Salah satunya adalah proses metabolisme bilirubin.Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmengetahuihubunganantaraberatbadanlahirdengankejadianhiperbilirubinemia.

Penelitiandilaksanakanpadatanggal 12 April – 12 Mei 2015 diruang neonatus RSUD Nganjuk.Jenispenelitian yang digunakanadalahobservasionaldengandesainpenelitiananalitik. Variabel independennya adalah berat badan lahir dan variabel dependennya adalah hiperbilirubinemia.Sedangkanuntukpendekatanantarvariabelnyaadalah“ Cross Sectional”. Populasinyaadalahseluruhneonatusdi ruang neonatus RSUD Nganjuk  yang berjumlah 109 neonatus. Dan jumlah sampel yangmemenuhikriteriainklusidaneksklusi adalah sebanyak 40 neonatus. Data diujidenganbantuankomputermenggunakanteknikujiChi Squaredengan α 0,05.

Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaberat badan lahir neonatus yang normal adalah sebanyak 23 neonatus(57,5%)  dan yang mengalami BBLR adalah sebanyak 17 neonatus ( 42,5%), sedangkanneonatus yang tidakmengalami hiperbilirubinemiaadalah sebanyak 21 neonatus (52,5%)dan yang mengalamihiperbilirubinemiaadalah sebanyak 19 neonatus(47,5%), dengan P value ═ 0,000. Inimenunjukkanbahwaadahubungan yang signifikanantaraberat badan lahir dengankejadianhiperbilirubinemia.

Penelitian ini menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa walapun kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu faktor yang dapat memperbesar kemungkinan neonatus mengalami hiperbilirubinemia adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

 

Kata kunci :Berat badan lahir, neonatus, hiperbilirubinemia.


Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.